Mengapa vape dilarang di Singapura?

Vape dilarang di Singapura karena dianggap berbahaya bagi kesehatan. Meskipun tampilannya menarik, dengan desain yang modern dan rasa yang manis atau buah-buahan, vape tetap berfungsi utama untuk mengantarkan nikotin, zat yang sangat adiktif. Penggunaan nikotin dapat menyebabkan efek samping langsung seperti peningkatan detak jantung, tekanan darah tinggi, mual, diare, dan keringat berlebihan. Lebih serius lagi, paparan nikotin pada remaja bisa menyebabkan gangguan permanen pada perkembangan otak, seperti masalah kontrol impuls, kesulitan belajar, gangguan konsentrasi, hingga gangguan suasana hati.

Selain itu, e-vaporiser atau vape mengandung berbagai zat berbahaya seperti partikel halus (PM), zat karsinogenik seperti karbonil, serta senyawa organik volatil seperti formaldehida dan benzena. Vape juga diketahui mengandung logam berat beracun seperti timah, timbal, dan nikel yang berbahaya bagi tubuh.

Karena risiko kesehatan ini, sejak 1 Februari 2018, pemerintah Singapura melarang kepemilikan, penggunaan, pembelian, serta penjualan vape. Larangan ini juga mencakup impor dan distribusinya. Singapura termasuk salah satu dari 39 negara di dunia yang telah melarang penggunaan vape sepenuhnya, berbeda dengan 82 negara lainnya yang hanya mengatur penjualannya.

Di Singapura, larangan ini berlaku di mana saja, baik di tempat umum maupun pribadi. Siapa pun yang melanggar aturan ini akan dikenakan sanksi hukum.

Dirangkum oleh: Yoseph Leonardo Samodra


Electronic vaporisers, also known as e-cigarettes, e-vaporisers, or vapes, are devices that heat and vaporise a liquid solution (e-liquid) for inhalation. These devices often contain harmful chemicals, including fine particulate matter (PM), cancer-causing agents like carbonyls, and volatile organic compounds such as formaldehyde and benzene. In addition, dangerous heavy metals like tin, lead, and nickel have been detected in e-vaporisers, making them hazardous to health.

Despite their colourful, sleek designs and sweet, fruity flavours, the primary function of e-vaporisers is to dispense nicotine, a highly addictive substance. Nicotine use can cause immediate side effects, including increased heart rate, elevated blood pressure, sweating, nausea, and diarrhoea. More concerningly, nicotine exposure during adolescence can have long-term effects on brain development, impairing impulse control, learning, focus, and increasing the risk of mood disorders.

In Singapore, the purchase, possession, and use of emerging and imitation tobacco products, including e-vaporisers, have been prohibited since 1 February 2018. This complements earlier bans on the importation, sale, and distribution of such products. Vaping is illegal in Singapore, whether done in private or public, and offenders are subject to penalties. Singapore is one of 39 countries that have banned e-vaporisers, contrasting with 82 countries that regulate their sale and distribution.

References:

https://www.channelnewsasia.com/commentary/singapore-vape-ban-policy-harm-chemical-nicotine-addiction-4334461
https://www.hsa.gov.sg/tobacco-regulation/vaping-enforcement
https://www.nus.edu.sg/uhc/articles/details/debunking-law-related-mistruths-regarding-vaping

Views: 1

Bagaimana cara menghitung BSA?

Body Surface Area (BSA) atau luas permukaan tubuh adalah ukuran yang digunakan dalam berbagai pengaturan medis untuk menilai dosis obat, fungsi ginjal, atau kondisi tubuh lainnya. Ada beberapa rumus yang dapat digunakan untuk menghitung BSA, namun rumus yang paling umum adalah Rumus Mosteller karena kesederhanaannya.

Langkah-langkah Menghitung BSA:

  1. Siapkan Data:
    • Tinggi badan dalam sentimeter (cm).
    • Berat badan dalam kilogram (kg).
  2. Masukkan ke dalam Rumus Mosteller:
    • Kalikan tinggi badan (cm) dengan berat badan (kg).
    • Bagi hasilnya dengan 3600.
    • Ambil akar kuadrat dari hasil tersebut.

Contoh Perhitungan:

Jika seseorang memiliki tinggi 170 cm dan berat badan 65 kg, maka BSA-nya dihitung dengan langkah-langkah berikut:

  1. Kalikan 170 dengan 65 untuk mendapatkan 11.050.
  2. Bagilah 11.050 dengan 3600 untuk mendapatkan sekitar 3,07.
  3. Ambil akar kuadrat dari 3,07, yang memberikan hasil sekitar 1,75 m².

Jadi, BSA orang tersebut sekitar 1.75 m².

Penggunaan BSA:

  • Dosis Obat: Digunakan untuk menghitung dosis obat-obatan tertentu, terutama dalam kemoterapi.
  • Evaluasi Fungsi Ginjal: Dipakai untuk memperkirakan laju filtrasi glomerulus (GFR).
  • Indikator Kesehatan: Memberikan gambaran tentang luas permukaan tubuh yang digunakan dalam berbagai pengukuran kesehatan lainnya.

Views: 12

Bagaimana nutrisi memengaruhi pemfigus vulgaris?

Keterlibatan mukosa oral, faringolaringeal, dan esofagus pada pasien pemfigus vulgaris (PV) dapat menyebabkan disfagia dan memperburuk status gizi, meningkatkan risiko malnutrisi dan sarkopenia. Hal ini disebabkan oleh peningkatan katabolisme akibat pengelupasan epidermal, kehilangan protein, respons inflamasi, dan imobilisasi fisik. Malnutrisi juga berdampak negatif pada penyembuhan luka, dengan kadar albumin rendah terkait dengan luaran klinis yang buruk dan peningkatan risiko infeksi.

Faktor nutrisi memainkan peran penting dalam manajemen pemfigus vulgaris, termasuk risiko rekurensi yang dipicu oleh makanan tertentu seperti bawang putih dan makanan panas yang memiliki efek akantolitik. Nutrisi yang memadai, termasuk protein, mikronutrien seperti vitamin A, B kompleks, C, dan seng, sangat penting untuk mendukung penyembuhan luka dan fungsi imun. Terapi nutrisi medis bertujuan untuk mencegah malnutrisi lebih lanjut, mempercepat penyembuhan, dan membantu mencegah kekambuhan penyakit.

Selain itu, penting untuk menyeimbangkan asupan karbohidrat dan lemak, terutama pada pasien yang menjalani terapi steroid jangka panjang, untuk mengelola risiko hiperglikemia dan dislipidemia. Pasien yang mengalami kesulitan makan akibat lesi mukosa dapat memerlukan dukungan nutrisi enteral atau suplementasi oral untuk mencegah penurunan lebih lanjut dalam status gizi dan mendukung proses penyembuhan yang efektif.

Referensi:

1.        Anindhita B, Ratna N, Manikam M. Medical nutrition therapy in hospitalized patients with pemphigus vulgaris. World Nutr J. 2023;7(1):14–22.

2.        Ruocco E, Wolf R, Ruocco V, Brunetti G, Romano F, Lo Schiavo A. Pemphigus: Associations and management guidelines: Facts and controversies. Clin Dermatol. 2013;31(4):382–90.

3.        Fedeles F, Murphy M, Rothe MJ, Grant-Kels JM. Nutrition and bullous skin diseases. Clin Dermatol. 2010;28(6):627–43.

4.        Fang H, Li Q, Wang G. The role of T cells in pemphigus vulgaris and bullous pemphigoid. Autoimmun Rev. 2020;19(11):1–9.

Views: 0

Apa itu gondongan?

Gondongan, atau parotitis, adalah infeksi virus yang disebabkan oleh virus mumps (virus gondongan). Penyakit ini terutama mempengaruhi kelenjar ludah, khususnya kelenjar parotis, yang berada di dekat telinga. Ketika terinfeksi, kelenjar ini membengkak dan menyebabkan pipi atau rahang bagian atas terlihat bengkak, yang merupakan salah satu gejala utama dari gondongan.

Berikut beberapa gejala umum gondongan:

  • Pembengkakan kelenjar parotis di satu atau kedua sisi wajah
  • Nyeri saat menelan atau mengunyah
  • Demam
  • Sakit kepala
  • Kelelahan
  • Kehilangan nafsu makan

Gondongan menyebar melalui percikan air liur atau sekresi dari saluran pernapasan yang terinfeksi, seperti saat batuk atau bersin. Penyakit ini lebih sering terjadi pada anak-anak, tetapi juga dapat menyerang orang dewasa.

Meskipun sebagian besar kasus gondongan sembuh dengan sendirinya, penyakit ini dapat menyebabkan komplikasi serius seperti radang otak (ensefalitis), radang testis (orkitis) pada pria, dan radang ovarium (ooforitis) pada wanita, meskipun kasus ini lebih jarang terjadi.

Views: 1

Apa beda malaise dan fatigue?

General malaise dan fatigue sering kali tumpang tindih, tetapi memiliki perbedaan penting dalam konteks medis dan pengalaman subjektif.

General Malaise

  • Definisi:
    Perasaan tidak enak badan secara keseluruhan, sering disertai sensasi bahwa ada sesuatu yang “tidak beres” pada tubuh.
  • Gejala:
    • Lemas atau lesu.
    • Kehilangan nafsu makan.
    • Perasaan tidak sehat tanpa gejala fisik yang spesifik.
  • Penyebab:
    Umumnya terkait dengan infeksi, penyakit kronis, efek samping obat, atau stres emosional.
  • Durasi:
    Bisa berlangsung singkat atau lebih lama tergantung penyebabnya.

Fatigue

  • Definisi:
    Kelelahan fisik atau mental yang signifikan dan persisten, bahkan setelah istirahat.
  • Gejala:
    • Kelelahan ekstrem.
    • Kurang energi untuk aktivitas sehari-hari.
    • Sulit konsentrasi atau gangguan memori.
  • Penyebab:
    Bisa disebabkan oleh kurang tidur, kondisi medis seperti anemia atau hipotiroidisme, aktivitas fisik berlebihan, atau stres.
  • Durasi:
    Biasanya lebih menetap dan membutuhkan evaluasi jika tidak membaik dengan istirahat.

Views: 2

Mengapa digoxin tidak rutin diberikan ke semua pasien jantung?

Digoxin tidak rutin diberikan kepada pasien jantung karena keterbatasan efektivitasnya, potensi toksisitas, dan adanya terapi modern yang lebih aman. Berikut adalah alasan utamanya:

  1. Spektrum Indikasi Terbatas
    Digoxin umumnya digunakan pada pasien dengan fibrilasi atrium (AF) dan gagal jantung dengan penurunan fraksi ejeksi. Tidak semua pasien jantung membutuhkan digoxin, terutama jika fungsi jantung masih baik atau jenis aritmia tidak memerlukan kontrol frekuensi.
  2. Potensi Toksisitas
    Digoxin memiliki rentang terapeutik yang sempit, sehingga mudah menyebabkan toksisitas. Gejalanya meliputi mual, muntah, gangguan penglihatan (buram atau warna kekuningan), dan aritmia serius. Risiko meningkat pada pasien lanjut usia, dengan gangguan ginjal, atau yang mengonsumsi obat tertentu.
  3. Efektivitas Terbatas
    Digoxin tidak menurunkan angka kematian pada gagal jantung. Obat ini hanya memperbaiki gejala dan kualitas hidup, sehingga penggunaannya lebih fokus pada kontrol detak jantung pada fibrilasi atrium.
  4. Risiko Interaksi Obat
    Digoxin memiliki banyak interaksi obat, seperti dengan diuretik, amiodarone, verapamil, dan antibiotik tertentu, yang dapat meningkatkan risiko toksisitas.

Views: 0

Apa beda enukleasi, eviserasi, dan eksenterasi?

Menurut American Society of Ophthalmic Plastic and Reconstructive Surgery (ASOPRS) pada tahun 2005 dalam buklet untuk awam, beda enukleasi dan eviserasi adalah:

  • Enukleasi adalah pembedahan untuk mengangkat keseluruhan mata.
  • Eviserasi adalah pembedahan untuk mengangkat isi bola mata, menyisakan otot dan bagian putih mata.

Dokter Asa D. Morton pada Bab 23 dari buku “Ophthalmic Care of the Combat Casualty” menerangkan perbedaan enukleasi dan eviserasi ialah:

  • Enukleasi melibatkan pengangkatan bola mata dan sebagian nervus optikus anterior, dengan usaha untuk mempertahankan konjungtiva, kapsula Tenon, serta otot ekstraokular.
  • Eviserasi adalah pengangkatan isi bola mata tapi dengan menyisakan sklera dan, pada beberapa kasus, juga menyisakan kornea.

Dokter Bhavna Chawla, dalam acara AIOC 2010 membawakan makalah karyanya dengan Dokter Bajaj dkk berjudul “Orbital Exenteration: Current Indications”, di dalamnya tercantum:

  • Eksenterasi orbita adalah pembedahan destruktif yang dilakukan pada situasi klinis yang genting sebagai upaya menyelamatkan jiwa. Eksenterasi terutama dilakukan pada kondisi keganasan orbita dan kadang-kadang untuk infeksi dan inflamasi orbita yang mengancam nyawa.

Dalam laporan penelitiannya, “Orbital Exenteration: A 20-Year Study of 45 Cases”, dokter Arie Y. Gemet, dkk menerangkan tentang eksenterasi:

  • Eksenterasi orbita melibatkan pengangkatan jaringan lunak orbita termasuk bola mata. Prosedur tradisional mencakup pengangkatan bola mata, kelopak mata, konjungtiva, dan keseluruhan isi orbita termasuk area periorbita. Eksenterasi subtotal mencakup pengangkatan bola mata, konjungtiva, dan otot ekstraokular, tanpa dilakukan diseksi subperiosteal.

Views: 11